BIDIK KRIMINALCepat. Tegas. Terverifikasi.
BREAKING
Polemik Jam Kerja dan BPJS Relawan MBG Dumai, Yayasan Riau Pesisir Diharapkan Beri KlarifikasiDua Sopir Diduga Gelapkan 8,48 Ton Inti Sawit, PT BNI 70 Rugi Rp108,9 JutaTragedi di Depan Kantor DPRD Dumai, Pemuda Tewas Diduga Dianiaya Beramai-ramaiBekal Kembali ke Masyarakat, Rutan Dumai Dorong Warga Binaan Perkuat Iman dan AkhlakTak Sekadar Pembinaan, Rutan Dumai Bekali Warga Binaan Keterampilan PertanianSebelas Pria Positif Metamfetamina, Barang Bukti Narkotika Tak Ditemukan saat RaziaRazia THM Dumai Dipertanyakan! Kujira dan J-Mex Disebut Buka Lagi Usai Petugas PulangDua Kali Peringatan, Legalitas Pemotongan Ex. MV. NORTH STAR 9 di Dumai Masih Menjadi PertanyaanPapan Informasi Proyek Tak Tampak, Warga Pertanyakan Transparansi Galian Parit TegalegaKoperasi SSMS Klaim Punya Penunjukan Resmi, Dasar Tuntutan TKBM Dipertanyakan

Daratan Mundam Terus Terkikis,

Warga Dihantui Ancaman Kehilangan Rumah

Warga Dihantui Ancaman Kehilangan Rumah
Kondisi bibir pantai di sepanjang di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai (f: tim) 

jejakredaksi.com — Ancaman bencana abrasi (pengikisan) air laut di wilayah Kelurahan Mundam kian mengkhawatirkan. Laju penggerusan daratan oleh gelombang laut dilaporkan semakin masif dan kini telah mendekati badan jalan bawah yang menjadi akses utama masyarakat di kawasan permukiman tersebut.

Kondisi ini menimbulkan kecemasan mendalam bagi ratusan warga setempat. Mereka khawatir tidak hanya kehilangan lahan tempat tinggal, tetapi juga terputusnya akses transportasi yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan pantauan di lapangan, gelombang laut yang terus menghantam garis pantai tidak hanya mengikis bibir pantai, tetapi juga telah menelan sejumlah lahan produktif milik warga. Area yang sebelumnya berupa daratan dan perkebunan kini berubah menjadi perairan akibat abrasi yang terjadi secara terus-menerus tanpa penanganan permanen.

Perwakilan masyarakat, Dato' Junaidi dari KKSI (Kekerabatan Kesultanan Siak Sri Indrapura), mengungkapkan bahwa laju abrasi dalam beberapa waktu terakhir meningkat signifikan.

“Tanah warga sudah banyak yang hilang tergerus air laut. Jika tidak segera ditangani, jalan bawah ini tinggal menunggu waktu untuk ambles dan terputus,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Masyarakat Mundam pun berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat. Mereka mendesak agar langkah konkret segera diambil guna mencegah kerusakan yang lebih luas.

Sejumlah upaya penanganan yang dinilai mendesak antara lain pembangunan tanggul atau pemecah gelombang (breakwater) untuk meredam energi ombak sebelum menghantam daratan, rehabilitasi ekosistem mangrove sebagai penahan alami abrasi, serta pemasangan bronjong atau batu gajah di titik-titik kritis yang berbatasan langsung dengan badan jalan.

Warga menilai, tanpa intervensi cepat dari instansi terkait, abrasi berpotensi semakin meluas dan tidak hanya mengancam permukiman, tetapi juga memutus akses mobilitas serta menimbulkan kerugian ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. (*)

Penulis: Bambang/ Irwan