BIDIK KRIMINALCepat. Tegas. Terverifikasi.
BREAKING
Tak Ada Ruang bagi Kendaraan Tak Standar, Polres Dumai Tindak 25 Sepeda Motor dalam Operasi PatuhLewat Call Center 110, Polres Dumai Bongkar Dugaan Penyalahgunaan Sabu di KostRazia Narkoba di Dumai, 30 Pengunjung Dites Urine dan Seluruhnya NegatifJonatan Ginting Apresiasi Raker RGB, Dorong Media Adaptif Hadapi Transformasi DigitalDua Periode Bambang Prayeto Pimpin PWI, Ini Harapan Pelindo DumaiBangga! Pelindo FC Keluar sebagai Juara World Corporate Cup 2026Bangun Kemitraan dengan Warga, Polsek Dumai Barat Hadir Melalui Program Jumat KelilingNota Pelayanan Barang Nonpetikemas di Cabang Dumai Diterbitkan PelindoJaga Standar Pelayanan, KSOP dan Pelindo Dumai Perkuat Sinergi Operasional PelabuhanTak Sekadar Menambah Media, RGB Bidik Penguatan SDM, Tata Kelola, dan Kualitas Jurnalistik

Daratan Mundam Terus Terkikis,

Warga Dihantui Ancaman Kehilangan Rumah

Warga Dihantui Ancaman Kehilangan Rumah
Kondisi bibir pantai di sepanjang di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai (f: tim) 

jejakredaksi.com — Ancaman bencana abrasi (pengikisan) air laut di wilayah Kelurahan Mundam kian mengkhawatirkan. Laju penggerusan daratan oleh gelombang laut dilaporkan semakin masif dan kini telah mendekati badan jalan bawah yang menjadi akses utama masyarakat di kawasan permukiman tersebut.

Kondisi ini menimbulkan kecemasan mendalam bagi ratusan warga setempat. Mereka khawatir tidak hanya kehilangan lahan tempat tinggal, tetapi juga terputusnya akses transportasi yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan pantauan di lapangan, gelombang laut yang terus menghantam garis pantai tidak hanya mengikis bibir pantai, tetapi juga telah menelan sejumlah lahan produktif milik warga. Area yang sebelumnya berupa daratan dan perkebunan kini berubah menjadi perairan akibat abrasi yang terjadi secara terus-menerus tanpa penanganan permanen.

Perwakilan masyarakat, Dato' Junaidi dari KKSI (Kekerabatan Kesultanan Siak Sri Indrapura), mengungkapkan bahwa laju abrasi dalam beberapa waktu terakhir meningkat signifikan.

“Tanah warga sudah banyak yang hilang tergerus air laut. Jika tidak segera ditangani, jalan bawah ini tinggal menunggu waktu untuk ambles dan terputus,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Masyarakat Mundam pun berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat. Mereka mendesak agar langkah konkret segera diambil guna mencegah kerusakan yang lebih luas.

Sejumlah upaya penanganan yang dinilai mendesak antara lain pembangunan tanggul atau pemecah gelombang (breakwater) untuk meredam energi ombak sebelum menghantam daratan, rehabilitasi ekosistem mangrove sebagai penahan alami abrasi, serta pemasangan bronjong atau batu gajah di titik-titik kritis yang berbatasan langsung dengan badan jalan.

Warga menilai, tanpa intervensi cepat dari instansi terkait, abrasi berpotensi semakin meluas dan tidak hanya mengancam permukiman, tetapi juga memutus akses mobilitas serta menimbulkan kerugian ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. (*)

Penulis: Bambang/ Irwan